sekilas pandang tentang Al-qur'an

Al-qur’an merupakan sebuah pedoman hidup bagi umat manusia untuk mencapai keridhoan Allah SWT, dan jugamerupakan sumber utama dalam menggali sebuah ketetapan hukum, Al-qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui pelantara malaikat Jibril, yang diturunkan sebagai mu’jizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang masih bisa dirasakan sampai sekarang. Tidak ada satu orangpun yang bisa menandingi satu ayat dalam Al-qur’an dari segi tata bahasa, makna, dan kandungan isi Al-qur’an.

Bangsa arab pada waktu itu sangat ahli dalam bidang sya’ir, mereka saling berlomba-lomba untuk menciptakan sya’ir yang bagus, dan Al-qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan bukti kenabiannya untuk bangsa arab pada waktu itu, dari sekian banyak ahli sya’ir di arab pada waktu itu tidak ada satupun yang sanggup melawan keindahan ayat-ayat Al-qur’an.

Al-qur’an sebagai dalil naqli dalam beristinbat hukum sering menjadi bahan perdebatan oleh para ulama dalam memahami ayat-ayatnya, baik karena al-qur’an itu masih bersifat global, banyaknya ayat-ayat yang mutasyabihat, dan juga tentang asbab al-wurudnya.

Dalam makalah ini saya akan membahas tentang salah satu masalah dalam memahami Al-qur’an, yakni tentang Asbab Al-wurud.

Asbab al nuzul berfungsi mengungkap kejadian-kejadian historis dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi turunnya nash Al Qur'an. Tinjauan terhadap Al Qur'an Al-Karim seperti mengetahui ayat mana yang turun terlebih dahulu dan mana yang belakangan; ayat mana yang turun berkenaan dengan sebab tertentu yang mendahuluinya, ayat mana yang menjelaskan sebab tersebut, dan ayat mana yang merupakan tanggapan terhadapnya atau menjelaskan hukumnya; apakah ayat tersebut harus dipahami berdasarkan keumuman arti atau kekhususan sebab turunnya; jangkauan pertimbangan terhadap realitas ayat dan situasi serta kondisi yang menyertainya; kejadian dan siapa-siapa yang terlibat didalamnya semua itu dijelaskan dalam asbab al nuzul.

Ketika Rosulullah SAW masih hidup, para sahabat menanyakan semuapersoalan mereka kepada beliau, atau melihat sikap dan perilaku beliau. Setelah Rosulullah SAW wafat tidak ada orang yang mempunyai otoritas kenabian untuk menjelaskan suatu perkara, dimasa sahabat, banyak dipelajari asbab al-nuzul untuk mengetahui penafsiran sebuah ayat demi mendekati penafsiran Rosulullah. Oleh karena itu mereka haus untuk mengetahui sebab-sebab turunnya sebuah ayat, sehingga mereka dapat mengambil kesimpulan dari ayat tersebut. Penafsiran tersebut semakin terasa penting ketika para tabi’in yang tidak hidup bersama nabi berhadapan dengan masalah-masalah fiqh yang menuntut pengambilan hukum, sehingga sikap kehati-hatian mereka mendorong munculnya kodifikasi ilmu asbab al-nuzul.

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mau Membaca..
Silahkan Tinggalkan Komentar..

 
Maulana Ni'ma Alhizbi Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template