HUMANISASI HUKUM ISLAM

Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah sumber utama dari hukum islam, dari keduanya yang merupakan dalil-dalil yang bersifat global inilah hukum islam didapat. Al-Qur'an adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara Malaikat Jibril. sedangkan Al-Hadits adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan diamnya (Taqriri)nya Nabi Muhammad SAW. selain dua hal diatas sumber lain adalah ijma' (kesepakatan).

Untuk memahami sumber hukum islam, terutama Al-Qur’an dan As-Sunnah , dalam membuat suatu hukum yang baru kita harus menggunakan ushul fiqh. Ushul fiqh ini lahir dari doktrin yang mutlak (Al-Qur'an dan Al-Hadits) dan sejarah perubahan zaman. Ushul Fiqh adalah sekumpulan ilmu tentang  kaidah-kaidah yang memberikan jalan bagi setiap orang untuk menggali hukum islam dari sumber-sumbernya (Al-Qur'an dan Al-Hadits).

Tujuan utama ushul fiqh adalah untuk mengusahakan bagai mana caranya agar apa yang diucapkan oleh Allah (Al-Qur’qan) dan Nabi Muhammad (Al-Hadits) terjadi di masyarakat. Dalam artian apa yang menjadi tujuan diturunkannya wahyu dan hadits itu teraplikasi dalam kehidupan masyarakat.

Dibalik kehidupan yang dinamis ini,  realitas dalam masyarakat pada dasarnya dibangun oleh teks-teks (praktek/lafadz) yang ada atau terjadi sebelumnya. dalam arti realitas tidak berangkat dari sebuah ruang kosong yang tak bernilai, realitas lahir dari sebuah tradisi luhur umat manusia yang telah di "dialogkan"  dengan doktrin Agama. Jadi kehidupan sekarang ini adalah gabungan antara doktrin agama dalam bentuk Al-Qur’an dan sejarah perkembangan zaman dalam bentuk pengalaman.

peranan manusia dalam membentuk sebuah peradaban sangat besar, akal yang dimiliki oleh manusia mampu menciptakan sebuah kehidupan yang sangat maju dan sangat baik, namun manusia mampu juga untuk membuat sebuah kehidupan yang amburadul, dengan banyak kejahatan disana-sini. maka peranan agama sangat dibutuhkan dalam membentuk kehidupan manusia yang bisa membawa kemashlahatan di dunia maupun di akhirat. akal manusia harus senantiasa di"kawin"kan dengan doktrin-doktrin agama.

sikap yang salah apabila manusia memaksakan akalnya saja untuk menjalani kehidupan, hal yang salah pula apabila doktrin agama dipaksakan untuk berjalan didalam sebuah kehidupan. harus terjadi dialektika antara keduanya agar tercipta sebuah tatanan kehidupan yang islami yang selalu mendatangkan kemashlahatan bagi para penghuninya.

Sebuah agama itu akhirnya akan di praktekan oleh individu, begitu pula islam, nilai-nilai luhur agama islam juga akan dicerna oleh individu. Yang menentukan kita islam atau tidak itu bukanlah kelompok atau sebuah negara tetapi diri kita sendiri, begitu juga surga dan neraka juga diri kita sendiri, jika ada orang yang tinggal di negara Arab Saudi yang dasr negaranya adalah Al-qur’an dan Al-Sunnah, tetapi jika salah satu penduduknya memeras, memperkosa, menganiaya TKI dan minum minuman keras, jelas itu neraka, meskipun kita orang indonesia di negara pancasila tetapi beriman dan bertaqwa maka mereka layak masuk surga.

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mau Membaca..
Silahkan Tinggalkan Komentar..

 
Maulana Ni'ma Alhizbi Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template