FILSAFAT ANAXAGORAS (499-420 SM)

Filsuf kejamakan kedua adalah Anaxagoras yang sebagian besar hidupnya dimanfaatkan di Athena.
Pendapat orang mengenai dia bermacam-macam, akan tetapi bagaimanapun satu hal yang jelas, yaitu bahwa ia menolak ajaran Parmenides yang monistis itu. Menurut dia, kenyataan bukanlah satu, sebab kenyataan terdiri dari banyak anasir, yang masing-masing memiliki kualitas yang sama dengan kualitas “yang ada”, yaitu : tidak dijadikan, tidak berubah dan berada di ruang yang kosong.

Didalam hal ini ada kesamaannya dengan Empedokles. Hanya saja menurut Anaxagoras, anasir tidak hanya empat, seperti yang diajarkan Empedokles, melainkan tidak terhitung bilangannya. Anasir-anasir itu tidak disebut Arizomata (akar), tetapi spermata (benih-benih). Benih-benih yang banyak tak terbilang itu keadaanya bermacam-macam juga. Segala sesuatu tersusun dari benih-benih atau anasir-anasir itu.
Seperti hal nya dengan Empedokles, ia juga mengajarkan teori tentang penggabungan dan penceraian. Oleh karena segala sesuatu terjadi dari benih-benih yang banyak itu, maka menurut Anaxagoras, segalanya terdapat dalam segalanya, artinya : semua benih mengandung semua kualitas. Sekalipun benda dapat dibagi-bagi hingga tak terhingga, namun semua kualitas selalu ada dalam benda itu. (salju umpanya tidak hanya memiliki warna putih saja, tetapi juga warna hitam, merah, hijau, dan sebagainya; tidak hanya mengandung darah, tetapi juga daging, kuku, dan sebagainya).

Oleh karena itu jika orang makan apa saja, ia telah mendapatkan semua itu. Demikianlah kenyataan seluruhnya adalah suatu campuran semua benih, dan tiap benda mengandung didalamnya semua benih. Hanya saja, yang dilihat adalah benih yang dominan, umpamanya : salju tampak putih.
Pokok penting dalam ajaran Anaxagoras adalh teorinya tentang nous (roh, rasio). Roh ini terpisah dari segala sesuatu, tidak tercampur dengan benih-benih. Roh adalah yang terhalus dan tersempurna dari segala sesuatu. Sekalipun demikian kekuatannya melebihi segala sesuatu. Oleh karena itu roh menguasai segala sesuatu yang berjiwa. Semula benih-benih mewujudkan suatu Chaos, suatu kekacauan, akan tetapi kemudian roh menyebabkan adanya suatu gerak-dunia dalam kekacauan yang asali itu, sehingga terpisahlah benih-benih tadi dan timbul suatu tertib.
Anaxagoras membedakan antara roh (nous) dengan benda. Akan tetapi uraiannya tentang roh itu menampakan, bahwa roh belum juga bebas dari segala kebendaan.

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mau Membaca..
Silahkan Tinggalkan Komentar..

 
Maulana Ni'ma Alhizbi Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template