FILSAFAT PARMENIDES (540 – 475)

Jika Herakleitos mengajarkan, bahwa hakekat segala kenyataan adalah perubahan, maka Parmenides menentangnya dan mengemukakan, bahwa kenyataan bukanlah gerak dan perubahan, melainkan keseluruhan yang bersatu, yang tidak bergerak, yang tidak berubah.

Arti besar parmenides adalah ialah, bahwa ia menemukan secara mendalam idea atau gagasan tentang “ada” . gagasan ini dituangkan dalam suatu syair tentang alam, yang isinya terdiri dari pendahuluan dan dua bagian.

Didalam pendahuluan dijelaskan bagaimana yang ilahi telah memberikan kebenaran kepadanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa ada dua jalan mendapatkan pengetahuan, yaitu : jalan yang benar dan jalan yang sesat. Jalan yang sesat, yang menipu, member pengetahuan yang semu.

Adapun pengetahuan yang semu adalah segala pengetahuan yang telah dimiliki orang hingga saat ini, yaitu pengetahuan yang gagasan dasarnya adalah kejamakan dan perubahan. Pengetahuan ini disebabkan oleh penipuan indera manusia.

Di dalam bagian pertama syairnya, dibicarakan hal kenyataan yang benar. Kenyataan yang benar ini hanya dapat diketahui dengan akal, bukan dengan pengamatan indera.

Menurut Parmenides “yang ada itu” . inilah yang disebut kebenaran yang tidak mungkin diungkiri. Mengenai “yang ada” orang dapat mengemukakan dua pengandaian. Orang dapat mengemukakan, bahwa “yang ada” itu tidak ada, atau bahwa “yang ada” itu sekaligus ada dan tidak ada. Kedua pengandaian ini salah, sebab mustahil, bahwa “yang ada” itu tidak ada, atau bahwa “yang ada” itu sekaligus ada dan tidak ada. Mustahil bahwa “yang ada” itu tidak ada, dan bahwa “yang tidak ada” itu ada. “yang tidak ada” justru tidak ada, dan “yang tidak ada” mustahil dapat dipikirkan atau dibicarakan. Yang dapat dipikirkan dan dibicarakan hanya “yang ada” saja. Jelaslah bahwa “yang ada itu ada” dan “yang tidak ada itu tidak ada”. Jalan tengah tidak mungkin. “yang ada” tidak mungkin menjadi “tidak ada”, dan “yang tidak ada” tidak mungkin menjadi ada.

Oleh karena “yang tidak ada” tidak dapat dipikirkan, maka berada dan berpikir adalah sama, identik.
Jikalau “yang ada” demikian itulah adanya, maka “yang ada” tidak boleh tidak tentu satu, tidak terbagi, tidak berawal dan berakhir, tidak dapat muncul daripada “yang tidak ada”, dan tidak akan menjadi tidak ada. Tiada masa lampau dan masa depan bagi “yang ada”, keadaaannya hanya “sekarang” semata-mata. Yang ada tidak dapat dibagi-bagi, tentu akan ada banyak “yang ada”, aka nada kejamakan. Yang ada ini juga tidak berubah, sebab perubahan mengandaikan di dalamnya hal yang tidak ada.

Pemikiran Parmenides ini adalah suatu pandangan yang genial. Pikirannya dituntaskan secara konsekuen. Baginya kenyataan adalah suatu kesatuan, tanpa pembedaan anatara segi yang rohani dan yang jasmani. Akibatnya, yang ada itu disamakan dengan sesuatu yang bulat, yang tidak memerlukan tambahan, tetapi yang mengambil ruang. Oleh karena itu ia mengatakan, bahwa tiada ruang kosong, sebab seandainya ada ruang kosong, diluar yang ada masih ada sesuatu yang lain lagi.
Para filsuf dari elea yang kemudian daripada Parmenides berusaha untuk mempertahankan kesatuan ada dan sifat ada yang tidak dapat berubah.

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mau Membaca..
Silahkan Tinggalkan Komentar..

 
Maulana Ni'ma Alhizbi Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template