FILSAFAT ZENO

Zeno dari Elea, yang lahir pada kira-kira tahun 490 SM, adalah murid Parmenides, yang coba membuktikan , bahwa gerak adalah suatu khayalan, dan bahwa tiada kejamakan serta tiada ruang kosong.

Ada bermacam-macam alasan yang dikemukakan untuk membuktikan, bahwa gerak adalah suatu khayalan. Diantara bukti-bukti ialah :
  1. Bahwa Akhilles, pelari termasyhur Yunani, tidak akan pernah dapat mengejar seekor kura-kura yang bejalan di depannya dalam jarak tertentu. Sebab setiap kali Akhilles sampai di tempat kura-kura mulai berjalan, kura-kura itu sudah meninggalkan tempat startnya. Demikian itu terjadi terus menerus, akhirnya Akhilles tidak pernah dapat mengejar kura-kura itu. Bukti yang lain ialah, bahwa sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya sebenarnya tidak bergerak, melainkan setiap saaat berhenti. Hanya kelihatannya saja bergerak.
  2. Untuk membuktikan bahwa tiada kejamakan, Zeno mengemukakan, bahwa seandainya ada kejamakan, sepotong garis dapat dibagi-bagi, yang tiap bagiannya paling sedikit terdiri dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujungnya. Bagian ini, karena memiliki jarak antara titik pangkal dan titik ujung, tentu dapat dibagi-bagi lagi, yang bagiannya terdiri dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujung. Demikianlah pembagiannya itu dapat terus menerus dilakukan, sebab setiap bagian senantiasa terdiri dari paling sedikit dua titik yang terpisah oleh suatu jarak. Pembagian yang demikian itu dalam kenyataannya tidak mungkin. Oleh karenanya harus disimpulkan, bahwa kejamakan tidak ada.
  3. Untuk membuktikan bahwa tiada ruang kosong, Zeno mengemukakan, bahwa seandainya ada ruang kosong, ruang kosong itu pasti mengambil tempatdalam ruang yang lain, dan ruang yang lainnya itu mengambil tempatnya lagi dalm ruang yang lain. Demikian seterusnya, tiada henti-hentinya. Oleh karena hal yang demikian itu tidak mungkin, maka harus disimpulkan, bahwa ruang kosong tidak ada.

Pada waktu sesudah para filsuf Elea ini filsafat tetap ditempatkan pada suatu pilihan yang sulit, seperti yang dihadapi Parmenides, yaitu : apakah kenyataan itu berada dalam “ada” yang tak berubah, atau berada dalam gejala-gejala yang terus menerus berubah itu. Semua ahli piker yang ditempatkan diantara Parmenides dan Sokrates harus dilihat dalam terang pemilihan yang sulit ini. Para ahli pikir itu adalah Empedokles, Anaxagoras, dan Demokritos.

Sejak Thales hingga Parmenides yang ditekankan adalah monisme, yaitu, bahwa kenyataan seluruhnya bersifat satu, karena hanya terdiri dari satu unsure saja. Parmenides umpamanya menguraikan hal itu secara berlebih-lebihan. Segala kejamakan dan per ubahan yang disaksikan oleh indera ditolak mentah-mentah. Alasan yang dikemukakan, sekalipun mengesan, namun kesimpulannya tidak diterima.
Para filsuf yang kemudian daripadanya, kembali kepada kejamakan, artinya : mereka berpendapat bahwa kenyataan seluruhnya terdiri dari banyak asas atau banyak unsur. Sebagian besar ajaran Parmenides diterima oleh para filsuf ini; kesaksian indera diterima juga, tidak ditolak seperti yang dilakukan Parmenides. Hal ini disebabkan karena: 1 ciri-ciri yang dikenakan Parmenides pada “yang ada” yaitu: tidak dilahirkan, tidak dapat dimusnahkan dan tidak berunah, dikenakan kepada anasir-anasr ( rizomata); anasir-anasir inilah yang tidak dilahirkan, tidak termusnahkan, dan tidak berubah; 2. Perubahan-perubahan yang tampak diterangkan demikian, bahwa anasir-anasir yang tetap sama itu digabungkan dan diceraikan dengan cara yang bermacam-macam.

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mau Membaca..
Silahkan Tinggalkan Komentar..

 
Maulana Ni'ma Alhizbi Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template